Jay-Jay Okocha: Rekan Terbaik Saya? Ronaldinho!

Jay-Jay Okocha tanpa ragu menyebut Ronaldinho sebagai rekan terbaik yang pernah dimilikinya di atas lapangan.

Jay-Jay Okocha tidak bisa dibantah merupakan salah satu pesepakbola terbaik yang pernah dimiliki Afrika. Salah satu momen terbaik legenda Nigeria itu terjadi kala dirinya membela Paris Saint-Germain, yang dibela pada 1998 hingga 2002. Kendati jadi pujaan dalam periodenya di Parc des Princes lewat dan raih sepasang trofi, Okocha mengaku iri dengan perubahan besar yang terjadi pada PSG sekarang. Meski begitu, sosok berusia 45 tahun ini tetap merasa terhormat pernah jadi bagian Les Parisiens.

“Saya merasa terhormat pernah bermain untuk PSG. Ini adalah klub besar, dukungan yang saya dapat kala itu luar biasa. Sayangnya saya berada di sana ketika klub melakukan begitu banyak perubahan,” buka Okocha secara eksklusif pada Goal Indonesia.

“Saya membela PSG selama empat tahun dan bermain untuk empat atau lima pelatih berbeda. Saya jelas merasa iri, karena sekarang PSG sudah melangkah ke level yang lebih tinggi. Namun tanpa penuh keraguan, saya menikmati waktu saya di sana.

“Kisah unik? Saya pikir apa yang terjadi di ruang ganti biarlah tetap di ruang ganti. Ada banyak hal yang terjadi di sana dan saya merindukan momen itu. Kami membangun pertemanan di klub dan jadi keluarga,” kenangnya..

Okocha bahkan menyebut rekan setimnya di PSG dahulu, Ronaldinho, adalah partner terbaiknya di atas lapangan. Hal itu terjadi karena gaya bermain legenda asal Brasil tersebut mirip dengannya.

“Rekan setim terbaik sepanjang karier saya adalah Ronaldinho. Ketika Anda bermain dengan pemain yang [karakteristiknya] mirip seperti Anda, Anda tak perlu berkomunikasi [verbal] untuk memahami satu sama lain. Anda hanya harus saling tatap,” ungkapnya.

Okocha kemudian memberikan jawaban inspiratif dengan menyebut bahwa lawan terberat sepanjang kariernya adalah dirinya sendiri. Pola pikir itu membuatnya terus menekan dirinya untuk jadi selalu lebih baik.

“Lawan terbesar dalam karier saya? Diri saya sendiri, karena saya selalu menempatkan diri saya dalam tekanan untuk jadi yang terbaik di mana pun saya berada. Saya selalu percaya, hanya saya yang bisa menghentikan diri saya sendiri,” ujarnya.

“Selain itu karena saya percaya, saya punya talenta yang spesial. Artinya ketika saya sedang membawa bola, saya [yang pertama] tahu apa yang akan terjadi. Karenanya, saya selalu mengatakan lawan terberat saya adalah diri saya sendiri,” pungkasnya bijak.